Selasa, 06 November 2012

Stop Konflik dan Perang, Demi Ekosistem

Tahukah Kamu, jika setiap 6 November ada hari peringatan bidang lingkungan hidup dengan nama terpanjang?

Hari ini seluruh dunia memperingati:

Hari Peringatan Sedunia untuk Mencegah Eksploitasi Lingkungan dalam Perang dan Konflik Bersenjata -

(International Day for Preventing the Exploitation of the Environment in War and Armed Conflict).

Konflik dan perang selain merugikan secara finansial dan kemanusiaan juga berdampak buruk bagi kelangsungan Ekosistem di bumi.

Cari Suhu Hangat, Ribuan Burung Asal Siberia Singgah di Banyumas

Ribuan burung asal Cina, Jepang dan Siberia (Rusia-Asia) banyak terlihat di wilayah Banyumas, Jawa Tengah, terutama di kawasan selatan Lereng Gunung Slamet dan sepanjang aliran sungai Serayu. Burung-burung migran tersebut membutuhkan suhu hangat di daerah tropis.

"Puluhan burung dari jenis elang, burung layang-layang dan burung air
tersebut berasal dari sekitar Siberia, Cina, dan Jepang. Mereka terbang menempuh ribuan kilometer melalui Semenanjung Malaya, melewati Sumatera, kemudian melintasi Jawa, dan berakhir di kepulauan Nusa Tenggara," kata Koordinator Biodiversity Society Banyumas, Timur Sumardiyanto, kepada wartawan.

Migrasi burung tersebut terjadi setiap tahun. Burung membutuhkan suhu hangat yang bisa ditemukan di daerah tropis. Salah satu daerah tujuan mereka adalah kepulauan Indonesia.

"Sekarang memang sedang musimnya burung-burung dari belahan utara khatulistiwa bermigrasi. Mereka terbang ribuan kilometer menuju tempat yang hangat, karena di tempat asalnya akan berlangsung musim dingin," jelasnya.

Dia mengatakan, periode kedatangan migrasi burung-burung tersebut adalah Oktober-November. Burung-burung tersebut terbang mengikuti tiupan angin dan menghindari musim dingin. Setelah beristirahat sekitar tiga bulan, mereka akan memulai perjalanan pulang pada awal Maret.

"Di Indonesia, biasanya perjalanan mereka berakhir di Nusa Tenggara Timur. Setelah itu, mereka akan kembali ke utara," tambahnya.

Dia menyatakan, burung-burung yang saat ini sedang melakukan migrasi tersebut, antara lain burung Sikep Madu Asia dan Elang Alap Cina. Burung Sikep Madu berasal dari kawasan utara Jepang dan daerah Siberia. Sedangkan burung Elang Alap berasal dari daratan Cina utara.

Selain burung jenis raptor (pemburu), sebenarnya ada cukup banyak jenis burung yang juga bermigrasi. Antara lain, dari jenis burung layang-layang dan burung air.

Dalam sehari, rata-rata 800 ekor burung layang-layang api dan layang-layang loreng Asia melintas di atas Bendung Gerak Serayu. Burung-burung tersebut menggunakan kawasan hutan di sepanjang daerah aliran Sungai Serayu untuk beristirahat pada malam hari. "Sungai Serayu cukup disenangi burung migran karena melimpahnya makanan dan air," ungkapnya.

Sementara, Hariyawan Agung Wahyudi, peneliti keragaman hayati, menyatakan, kegiatan pemantauan proses migrasi burung, secara tidak langsung sebenarnya bisa dikaitkan perubahan iklim dan lingkungan. Bila terjadi perubahan kondisi lingkungan dan iklim di satu daerah, maka akan terjadi perubahan pola migrasi dari burung-burung tersebut.

"Migrasi burung sangat penting untuk mengetahui perubahan kondisi lingkungan, terutama terkait geotermal.
Penggundulan hutan akan berdampak pada perubahan geotermal, dan burung bermigrasi dapat menjadi indikator perubahan tersebut," kata Hariyawan Agung Wahyudi, peneliti keragaman hayati yang sudah sejak tahun 2000 memantau migrasi burung di kawasan Banyumas.

Bela Hutan Mangrove, Penggiat Lingkungan Dihajar Preman

Suasana tegang sempat terjadi di salah satu kantor pengacara di Jalan Hassanudin, Denpasar, Senin (5/11) kemarin. Aktivis yang juga Ketua Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali I Wayan Suardana alias Gendo diserang dua pria tak dikenal dan langsung melakukan pemukulan.

Akibat aksi pemukulan itu, Gendo mengalami luka robek di bibir
dan gigi goyang serta mual-mual.
Kasus pengeroyokan ini pun telah dilaporkan dan kini ditangani Polda Bali.

Belum diketahui motif dari pengeroyokan yang dilakukan oleh dua pria berbadan kekar dan bertato tersebut. Mereka datang ke kantor pengacara Wihartono di Jalan Hassanudin, Denpasar dan langsung main hajar.

Awal kejadian, kata Gendo, bermula ketika dua orang datang ke kantor tersebut. Satu masuk ke kantor dan satunya berada di luar kantor. Mereka menanyakan nama Gendo. Saat itu, Gendo keluar dari kamar mandi dan langsung memperkenalkan diri. Akan tetapi, sepatah kata pun tak diucapkan pria yang menanyakan nama Gendo tersebut.

''Pria yang di luar sempat mengacungkan jempol. Sementara yang di dalam hanya duduk memainkan HP lalu menelepon temannya,'' jelasnya.

Tak berselang lama, usai menelepon, pria itu juga keluar dan mengatakan akan memanggil temannya. Tiba-tiba, sudah ada belasan pria mengendarai motor berada di depan kantornya. Mereka itu menjemput dua pria tadi lalu kabur.

Merasa ada yang tidak beres, Gendo menelepon rekannya, Wihartono dan Gung Jaya serta Gung Eka. ''Ada sekitar setengah jam, dua pria datang lagi. Namun, bukan pria yang sebelumnya,'' ucap aktivis asal Gianyar ini kepada awak media.

Kedua pria tersebut mendatangi meja Gendo dan langsung melakukan penyerangan. Sambil mengutarakan kata-kata berbahasa Bali, Gendo dipukul beberapa kali. Meski sempat menangkis, pukulan pelaku sempat mendarat di wajah Gendo. ''Da macem-macem ci. Kata-kata itu diucapkan berulang kali oleh pelaku saat memukul saya,'' ceritanya.

Akibat diserang dan dipukul, Gendo mengalami luka robek di bibir, gigi goyang dan kepala dirasakan pusing serta mual-mual.

Izin Tahura
Gendo menduga keras penganiayaan yang dialaminya ini terkait dengan advokasi Walhi pada kasus lingkungan seperti penolakan Walhi pada keluarnya izin Tahura. ''Ini terkait advokasi Walhi dan bukan urusan kantor advokat. Kalau ini urusan kantor advokat kenapa bukan yang punya kantor diserang padahal Wihartono ada di sana, kenapa yang dicari saya. Ini memang terkait dengan adovokasi Walhi pada kasus lingkungan. Tetapi saya tidak tahu siapa yang menggerakkan. Ini tujuannya untuk mengintimidasi saya,'' ujarnya.

Sebelum kejadian pemukulan itu, Gendo mengaku santer mendengar rumor bahwa aksi Walhi akan dihadang atau diblok karena dianggap menimbulkan ketidaknyamanan. ''Sebelumnya banyak orang juga mewanti-wanti saya agar berhati-hati. Kami sering mendengar rumor bahwa aksi kami akan dihadang karena menimbulkan ketidaknyamanan.

Banyak orang menyuruh saya hati-hati. Makanya saya katakan ini terkait dengan aktivitas saya di Walhi,'' katanya.
Kabid Humas Polda Bali Kombes Hariadi ketika dimintai konfirmasinya membenarkan pihak Polda Bali menerima laporan Gendo. ''Hingga kini kasusnya masih diselidiki,'' ujarnya.

Bela Hutan Mangrove, Penggiat Lingkungan Dihajar Preman

Suasana tegang sempat terjadi di salah satu kantor pengacara di Jalan Hassanudin, Denpasar, Senin (5/11) kemarin. Aktivis yang juga Ketua Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali I Wayan Suardana alias Gendo diserang dua pria tak dikenal dan langsung melakukan pemukulan.

Akibat aksi pemukulan itu, Gendo mengalami luka robek di bibir
dan gigi goyang serta mual-mual.
Kasus pengeroyokan ini pun telah dilaporkan dan kini ditangani Polda Bali.

Belum diketahui motif dari pengeroyokan yang dilakukan oleh dua pria berbadan kekar dan bertato tersebut. Mereka datang ke kantor pengacara Wihartono di Jalan Hassanudin, Denpasar dan langsung main hajar.

Awal kejadian, kata Gendo, bermula ketika dua orang datang ke kantor tersebut. Satu masuk ke kantor dan satunya berada di luar kantor. Mereka menanyakan nama Gendo. Saat itu, Gendo keluar dari kamar mandi dan langsung memperkenalkan diri. Akan tetapi, sepatah kata pun tak diucapkan pria yang menanyakan nama Gendo tersebut.

''Pria yang di luar sempat mengacungkan jempol. Sementara yang di dalam hanya duduk memainkan HP lalu menelepon temannya,'' jelasnya.

Tak berselang lama, usai menelepon, pria itu juga keluar dan mengatakan akan memanggil temannya. Tiba-tiba, sudah ada belasan pria mengendarai motor berada di depan kantornya. Mereka itu menjemput dua pria tadi lalu kabur.

Merasa ada yang tidak beres, Gendo menelepon rekannya, Wihartono dan Gung Jaya serta Gung Eka. ''Ada sekitar setengah jam, dua pria datang lagi. Namun, bukan pria yang sebelumnya,'' ucap aktivis asal Gianyar ini kepada awak media.

Kedua pria tersebut mendatangi meja Gendo dan langsung melakukan penyerangan. Sambil mengutarakan kata-kata berbahasa Bali, Gendo dipukul beberapa kali. Meski sempat menangkis, pukulan pelaku sempat mendarat di wajah Gendo. ''Da macem-macem ci. Kata-kata itu diucapkan berulang kali oleh pelaku saat memukul saya,'' ceritanya.

Akibat diserang dan dipukul, Gendo mengalami luka robek di bibir, gigi goyang dan kepala dirasakan pusing serta mual-mual.

Izin Tahura
Gendo menduga keras penganiayaan yang dialaminya ini terkait dengan advokasi Walhi pada kasus lingkungan seperti penolakan Walhi pada keluarnya izin Tahura. ''Ini terkait advokasi Walhi dan bukan urusan kantor advokat. Kalau ini urusan kantor advokat kenapa bukan yang punya kantor diserang padahal Wihartono ada di sana, kenapa yang dicari saya. Ini memang terkait dengan adovokasi Walhi pada kasus lingkungan. Tetapi saya tidak tahu siapa yang menggerakkan. Ini tujuannya untuk mengintimidasi saya,'' ujarnya.

Sebelum kejadian pemukulan itu, Gendo mengaku santer mendengar rumor bahwa aksi Walhi akan dihadang atau diblok karena dianggap menimbulkan ketidaknyamanan. ''Sebelumnya banyak orang juga mewanti-wanti saya agar berhati-hati. Kami sering mendengar rumor bahwa aksi kami akan dihadang karena menimbulkan ketidaknyamanan.

Banyak orang menyuruh saya hati-hati. Makanya saya katakan ini terkait dengan aktivitas saya di Walhi,'' katanya.
Kabid Humas Polda Bali Kombes Hariadi ketika dimintai konfirmasinya membenarkan pihak Polda Bali menerima laporan Gendo. ''Hingga kini kasusnya masih diselidiki,'' ujarnya.

Benarkah Matahari Akan Lebih Dekat ke Bumi?

Selama beberapa dekade, badai Matahari tampaknya semakin menganggu pesawat terbang dan luar angkasa, seperti disampaikan oleh para peneliti dari Reading University. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Geophysical Research Letters ini memprediksi suatu saat Matahari akan mengalami pergeseran ke bawah dan menjadi lebih dekat dengan Bumi.

K
ondisi itu akan menimbulkan radiasi berbahaya yang menjangkau Bumi. Tim peneliti mengatakan beberapa saat terakhir ini Matahari mencapai solar maksimum, yaitu suatu periode dimana lidah api dan bintik matahari akan mencapai aktivitas puncaknya. Fase ini mulai terjadi pada 1920-an dan sepanjang usia angkasa luar.

Profesor dari Reading University, Mike Lockwood, mengatakan seluruh bukti menunjukkan Matahari dalam waktu dekat tidak lagi mencapai solar maksimum dan aktivitas di kutub matahari malah akan mengalami penurunan.

"Siklus puncak solar maksimum terjadi tiap 11 tahun, dan lingkaran bintik matahari lebih besar dan jangkauan lidah api serta aktivitas lainnya lebih luas," ujarnya.

Peningkatan radiasi akan menyebabkan masalah pada penerbangan dan teknologi komunikasi yang belum ada ketika lingkar matahari mengakhiri masa solar maximumnya.

Penelitian mendasarkan temuannya pada bukti dari gunung es dan batang pohon yang kondisinya mirip dengan 10.000 tahuh lalu.

"Kami menggunakan data ini untuk menyatakan bahwa kombinasi yang tidak menguntungkan dari kondisi Matahari akan terjadi dalam beberapa dekade mendatang," kata Professor Lockwood seperti dikutip BBC Indonesia.

Pertanyaannya hanya seputar bagaimana kemungkinan terburuk dari radiasi dan sampai kapan akan terjadi.

Kapan Zaman Es Terakhir Kali?

Jaman Es sudah berulangkali melanda Bumi dalam kurun waktu beberapa juta tahun terakhir. Hal ini memunculkan pertanyaan kapan Jaman Es yang terakhir kali?

Seperti yang dikutip dari HowItWorksDaily, Jaman Es yang beberapa kali melanda Bumi juga memiliki beberapa periode yang disebut sebagai glasial, tiap ratusan ribu tahun, dengan periode hangat yang disebut sebagai
'interglasial'.

Jaman Es terakhir, jika mengacu pada beberapa episode glasial, maka jaman es dingin global terakhir mulai sekira 100 ribu tahun yang lalu dan berakhir sekira 11.700 tahun yang lalu.

Jaman Es terakhir ini bagian paling dinginnya melanda Inggris, yang terjadi sekira 25 ribu sampai 20 ribu tahun yang lalu.

Jadi kapan Jaman Es selanjutnya? Karena Jaman Es sebelumnya saja bisa bertahan hingga 11.700 tahun lamanya.

Menurut para ahli geofisika, mungkin proses 'interglasial' selanjutnya akan terjadi sekira ribuan tahun lagi, setelah jaman es selanjutnya dimulai.

Meskipun begitu, para ilmuwan tersebut juga mengatakan bahwa keberadaan manusia dapat mempengaruhi segalanya, karena sistem iklim itu sangat kompleks dan sulit untuk diprediksi.

Wow! 100 Tahun Lalu, Indonesia Telah Didesain Sebagai Konservasi Dunia

Hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia bukan merupakan isapan jempol. Jauh sebelumnya, tepatnya 1912, atau 100 tahun lalu, sebuah Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda yang disponsori oleh DR Hendrik, menekankan pentingnya konservasi. Salah satu bentuk rekomendasi dari organisasi tersebut adalah menjadikan Indonesia
sebagai pusat konvervasi dunia.

“Itu sudah mempromosikan bagaimana pentingnya Indonesia di dalam konteks internasional,” kata Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Kemenhut, Bambang Supriyanto, dalam dialog bersama Pro 3 RRI.

Tidak hanya itu, perkumpulan pencinta alam oleh elit Belanda itu juga telah mengusulkan kawasan, jenis flora dan fauna yang patut dilindungi, termasuk di dalamnya menyusun panduan agar konservasi di Indonesia juga memberikan keuntungan untuk dunia.

Pada perkembangannya, Indonesia komit untuk menjalankan rekomendasi tersebut yang tecermin dalam kebijakan pemerintah yang menekankan pembangunan berbasis ‘Green Development’. Artinya pembangunan di Indonesia harus memperhatikan prinsip konservasi berkelanjutan dengan memberikan manfaat masa kini dan masa mendatang.

Pemeirntah Indonesia juga memiliki kebijakan sebagai langkah mitigasi dengan menurunkan 26 persen emisi hingga 2020 dengan biaya sendiri dan 41 persen apabila ada bantuan dari luar negeri.

Kemudian dalam pertemuan negara-negara maju di Rio Janeiro, Brazil, Juni lalu, dalam acara “Leaders Valuing Nature” High-Level Leadership Platform At Rio+20: Commitments To The Green Economy di Rio de Janeiro, Brazil, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidatonya yakni ‘Green Economic’ atau ekonomi hijau.

Menurut Kepala Negara ekonomi hijau merupakan bagian integral dari ekonomi hijau, yang merupakan tujuan bersama, karena sangat banyak bagian dari masa depan yang berkelanjutan. “Ini menunjukan keseriusan Pemerintah Indonesia untuk konservasi”.