Selasa, 06 November 2012

Wow! 100 Tahun Lalu, Indonesia Telah Didesain Sebagai Konservasi Dunia

Hutan Indonesia sebagai paru-paru dunia bukan merupakan isapan jempol. Jauh sebelumnya, tepatnya 1912, atau 100 tahun lalu, sebuah Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda yang disponsori oleh DR Hendrik, menekankan pentingnya konservasi. Salah satu bentuk rekomendasi dari organisasi tersebut adalah menjadikan Indonesia
sebagai pusat konvervasi dunia.

“Itu sudah mempromosikan bagaimana pentingnya Indonesia di dalam konteks internasional,” kata Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Kemenhut, Bambang Supriyanto, dalam dialog bersama Pro 3 RRI.

Tidak hanya itu, perkumpulan pencinta alam oleh elit Belanda itu juga telah mengusulkan kawasan, jenis flora dan fauna yang patut dilindungi, termasuk di dalamnya menyusun panduan agar konservasi di Indonesia juga memberikan keuntungan untuk dunia.

Pada perkembangannya, Indonesia komit untuk menjalankan rekomendasi tersebut yang tecermin dalam kebijakan pemerintah yang menekankan pembangunan berbasis ‘Green Development’. Artinya pembangunan di Indonesia harus memperhatikan prinsip konservasi berkelanjutan dengan memberikan manfaat masa kini dan masa mendatang.

Pemeirntah Indonesia juga memiliki kebijakan sebagai langkah mitigasi dengan menurunkan 26 persen emisi hingga 2020 dengan biaya sendiri dan 41 persen apabila ada bantuan dari luar negeri.

Kemudian dalam pertemuan negara-negara maju di Rio Janeiro, Brazil, Juni lalu, dalam acara “Leaders Valuing Nature” High-Level Leadership Platform At Rio+20: Commitments To The Green Economy di Rio de Janeiro, Brazil, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidatonya yakni ‘Green Economic’ atau ekonomi hijau.

Menurut Kepala Negara ekonomi hijau merupakan bagian integral dari ekonomi hijau, yang merupakan tujuan bersama, karena sangat banyak bagian dari masa depan yang berkelanjutan. “Ini menunjukan keseriusan Pemerintah Indonesia untuk konservasi”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar