Ribuan burung asal Cina, Jepang dan Siberia
(Rusia-Asia) banyak terlihat di wilayah Banyumas, Jawa Tengah, terutama
di kawasan selatan Lereng Gunung Slamet dan sepanjang aliran sungai
Serayu. Burung-burung migran tersebut membutuhkan suhu hangat di daerah
tropis.
"Puluhan burung dari jenis elang, burung layang-layang dan burung air
tersebut berasal dari sekitar Siberia, Cina, dan Jepang. Mereka terbang
menempuh ribuan kilometer melalui Semenanjung Malaya, melewati
Sumatera, kemudian melintasi Jawa, dan berakhir di kepulauan Nusa
Tenggara," kata Koordinator Biodiversity Society Banyumas, Timur
Sumardiyanto, kepada wartawan.
Migrasi burung tersebut terjadi
setiap tahun. Burung membutuhkan suhu hangat yang bisa ditemukan di
daerah tropis. Salah satu daerah tujuan mereka adalah kepulauan
Indonesia.
"Sekarang memang sedang musimnya burung-burung dari
belahan utara khatulistiwa bermigrasi. Mereka terbang ribuan kilometer
menuju tempat yang hangat, karena di tempat asalnya akan berlangsung
musim dingin," jelasnya.
Dia mengatakan, periode kedatangan
migrasi burung-burung tersebut adalah Oktober-November. Burung-burung
tersebut terbang mengikuti tiupan angin dan menghindari musim dingin.
Setelah beristirahat sekitar tiga bulan, mereka akan memulai perjalanan
pulang pada awal Maret.
"Di Indonesia, biasanya perjalanan
mereka berakhir di Nusa Tenggara Timur. Setelah itu, mereka akan kembali
ke utara," tambahnya.
Dia menyatakan, burung-burung yang saat
ini sedang melakukan migrasi tersebut, antara lain burung Sikep Madu
Asia dan Elang Alap Cina. Burung Sikep Madu berasal dari kawasan utara
Jepang dan daerah Siberia. Sedangkan burung Elang Alap berasal dari
daratan Cina utara.
Selain burung jenis raptor (pemburu),
sebenarnya ada cukup banyak jenis burung yang juga bermigrasi. Antara
lain, dari jenis burung layang-layang dan burung air.
Dalam
sehari, rata-rata 800 ekor burung layang-layang api dan layang-layang
loreng Asia melintas di atas Bendung Gerak Serayu. Burung-burung
tersebut menggunakan kawasan hutan di sepanjang daerah aliran Sungai
Serayu untuk beristirahat pada malam hari. "Sungai Serayu cukup
disenangi burung migran karena melimpahnya makanan dan air," ungkapnya.
Sementara, Hariyawan Agung Wahyudi, peneliti keragaman hayati,
menyatakan, kegiatan pemantauan proses migrasi burung, secara tidak
langsung sebenarnya bisa dikaitkan perubahan iklim dan lingkungan. Bila
terjadi perubahan kondisi lingkungan dan iklim di satu daerah, maka akan
terjadi perubahan pola migrasi dari burung-burung tersebut.
"Migrasi burung sangat penting untuk mengetahui perubahan kondisi lingkungan, terutama terkait geotermal.
Penggundulan hutan akan berdampak pada perubahan geotermal, dan burung
bermigrasi dapat menjadi indikator perubahan tersebut," kata Hariyawan
Agung Wahyudi, peneliti keragaman hayati yang sudah sejak tahun 2000
memantau migrasi burung di kawasan Banyumas.