Pertanyaannya, apakah ada tempat yang lebih rendah dari ketinggian dasar parit/ saluran drainase didepan warung itu ?
Kalau pemkot / Dinas PU/Tatakota tak turkelap (turun ke lapangan)
seperti Jokowi, maka masyarakat setempatlah yang harus gotong- royong --
terutama sharing ide, kalau tenaga sih tak harus GR, karena bisa
dibayar dari keuntungan usaha Warung.
Aku ada
ide brilyant, he-he..Yaitu mengajak konsumen terlibat dalam
menanggulangi sampah konsumsi ini. Sebagai imbal-baliknya, maka
dilakukanlah potongan harga kepada apa-apa yang dikonsumsi di warung
itu.
Mekanismenya adalah setiap konsumen / pengunjung
warung-RL (ramah-lingkungan), diharuskan membawa sampah konsumsinya
sekalian meninggalkan warung.
Pertanyaanya sekarang, apakah
cukup banyak yang tersisa diporsi makan mereka ? Namun sekalipun
misalnya sumber-utama sampah warung bukanlah dari konsumsi, tak ada juga
salahnya membebani mereka (konsumen) dengan sampah warung, dengan
imbalan diskon harga. Sekalipun sumber-sampah adalah kebanyakan dari
pekerjaan produksi / pengolahan, tak ada salahnya melibatkan konsumen
dalam menanggulangi persoalan bersama itu.
Justru inilah
Gotong-royong modern / kontemporer, yang tidak sekedar mengambilsedimen
parit setiap hari Minggu -- yang bisa mengganggu rekreasi warga keluar
kota itu.
Yang penting dikasih penerangan dulu secara bertahap dari hari ke hari, dimulai dari langganan keras, he-he..
Selanjutnya akan mudah, karena warung ini akan menjadi terkenal di
seluruh Indonesia bahkan bisa mendunia seperti Jokowi dan Aceng Fikrie,
he-he.
Nah kalau dengan diskon itu usaha warung-RL menjadi
agak condong mau roboh, mintalah subsidi cerdas kepada pemerintah
setempat, dalam hal ini Dinas kebersihan, Dinas Kesehatan, Dinas PU/
Tatakota bahkan dari Dinas P&K.
Subsidi begini inilah yang diperlukan sebagai pengganti subsidi BBM dan urea yang tidak cerdas dan tak mendidik itu.
Andai subsidi BBM dicabut, maka penggantinya adalah subsidi cerdas, selain membangun/membenahi infrastruktur.
Dengan 'mode' baru jual-beli RL begitu itu maka akan dihematlah
pengeluaran Dinas PU/Tata Kota, karena tak perlu lagi megeluarkan dana
APBD untuk memperdalam dasar parit drainase disekitar warung RL itu.
Dinas Kebersihan juga akan diuntungkan karena tugsa merekalah
sebenarnya untuk mengeruk sedimen parit di setiap sudut kota. Dinkes
juga akan diuntungkan karena tak lagi mengeluarkan biaya pengobatan
orang yang sakit karena makan bakso di sebuah tempat yang jorok dan juga
tak lagi mengeluarkan biaya untuk mengobati warga sekitar warung yang
terkena peyakit diare karena buruknya sanitasi itu.
Dinas P7K
juga harus menyisihkan anggarannya untuk mensubsidi warung yang terancam
tikar bergulung karena mendiskon harga secara tajam demi menanggulangi
masalah pencemaran LH itu.
Bahkan guru-guru juga perlu
mengunjungi warung RL itu kelak (setelah cukup berhasil menerapkan
gagasannya), sambil belanja bakso -- untuk menimba ilmu dalam mengatasi
pencemaran lingkungan akibat kegiatan ekonomi.
Era sekarang
memang adalah era ekolonomisme (ekologisme- ekonomisme), dimana ongkos
produksi ekstra sudah dikenal - yang mengurangi keuntungan produsen /
penjual jasa. Dalam kasus- ekolonomi warbak RL ini, pembukuannya adalah
potongan harga diandaikan sebagai ongkos promosi, yaitu ongkos ekstra
RL itu.
Gagasan ini akan berjalan, juga setelah masyarakat
sudah menganut paradigma ekolonomisme, tidak hanya karena adanya
potongan harga itu. Artinya suatu saat kelak diskon harga akan
diperkecil dan subsidi pemerintah juga akan mengecil (jika mau terlibat
untuk tahap awal penerapan gagasan RL / ekolonomisme)
Maka
akan menjadi pemandangan biasa kelak seseorang meninggalkan warbak
(warung Batak), bahkan warmin (warung Minang) , warteg, dsb dengan
menenteng sebuah kantong asoy/kresek berisi sampah warung makan/jajan,
tak soal apakah itu sampah depan / konsumsi ( sisa makanan di piring),
atau sampah belakang / sampah produksi/pengolahan yang tercipta di
dapur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar